Dibalik Hikmah Belum Juga Wisuda, Saya belum Menemukanya
Segala sesuatunya memang telah di atur oleh Tuhan yang maha kuasa, lahir, mati, jodoh, dan rezeki, semuanya sudah di atur, namun semuanya kembali kepada diri kita, berdasarkan ayat Allah dalam al-Qur’an yang intinya Allah tak akan pernah mengubah suatu kaum, hingga ia mengubahnya sendiri..
Jika saya kaitkan dengan jabatan semester “engkong” yang saya raih dengan sukses sekarang sangat pas, meskipun Tuhan telah melahirkan saya menjadi sarjana (nantinya) akan tetapi ketika tak di barengi dengan usaha saya tuk meraihnya, maka gelar sarjana tersebut tidak mungkin saya sangkutkan di belakang nama saya.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan berhasil menyandang itu (dibaca: semester engkong, sebenarnya agak malas menyebutnya, namun demi tulisan saya lebih mudah di pahami dan di mengerti oleh masyarakat Indonesia, maka dengan berat hati saya memberanikan diri tuk menulisnya kembali), cukup, saya gak mau menerima gelar sarjana alay.. langsung aja ke tujuan penulisan saya saja yah.
Semester “itu” tak pernah sebelumnya saya membayangkan akan meraihnya, namun seiring berjalanya waktu akhirnya title tersebut nyantol juga di belakang nama saya, mau saya lepas, belum bisa, karena saya belum lulus, jadi biarin ajalah nyantol.. entar kalo udah cape juga lepas sendiri (mungkin)
Sandang predikat Semester “itu” saya dapatkan gara-gara terlalu idealis dengan judul skripsi yang saya agungkan dan saya pertahankan, akan tetapi karena menurut kaprodi saya kurang menarik sehingga berkali kali dia menolaknya, beliau lebih menyukai judul tentang metode, media, strategi, dan teman-temanya di bandingkan dengan judul yang saya ajukan dulu tentang kehebatan internet dalam membantu proses pembelajaran siswa.
Bukan karena saya seorang netizen, akan tetapi menurut saya jika dimanfaatkan internet dapat membantu pembelajaran didalam kelas, karena saya merasakan sendiri dengan media internet Allah mengenalkan saya kepada Desain Grafis, berbagai software, dan website dan bagaimana cara membuatnya, memang tak ada hubunganya dengan prodi saya yaitu PAI, namun internet mampu membantu manusia untuk mengembangkan hobinya.
Berbagai ilmu tentang desain grafis, software, dan web developer (bisa dikatakan demikian, meskipun masih nubie) saya dapat semua ilmu itu dari internet. Mereka mampu memahami dan mengajari saya dengan sabar dan dibarengi dengan ke “kepo”an saya menanyakan hal hal yang saya kurang mengerti, hingga akhirnya saya tau dan paham. Berbekal dari pengalaman itulah saya meyakini internet mampu mengubah kehidupan dan membantu mengembangkan hobi manusia.
Akan tetapi karena judul tersebut kurang pas dan kurang relevan jika di gunakan di prodi PAI (kata kaprodi saya dulu) maka dengan berat hati saya menyerah dan mengganti judul saya dengan judul yang mainstream dan menurut saya gak keren sama sekali, dan akhirnya judul saya ditrima, entah dari sisi mana mereka melihat bualan saya mengagungkan sebuah lembaga yang sudah jelas-jelas terlihat di depan mata menjadi sesuatu yang menarik untuk dipahami.
Apapun yang sudah terjadi itulah yang terbaik menurut Nya. Mungkin Tuhan ingin memberikan saya ilmu baru yang belum ada di internet selama ini kepada saya, sehingga Dia memberikan saya jalan lain tuk menyelesaikan Skripsi saya.
Apapun yang sudah terjadi itulah yang terbaik menurut Nya. Mungkin Tuhan ingin memberikan saya ilmu baru yang belum ada di internet selama ini kepada saya, sehingga Dia memberikan saya jalan lain tuk menyelesaikan Skripsi saya.
Skripsi saya membahas tema Pendidikan karakter, saya belum menemukan sisi menarik dari skripsi saya, karena pendidikan karakter lebih kepada meneliti sesuatu yang kasap mata (Karakter). Menjelaskan sesuatu yang kasapmata melalui tulisan menurut saya tak lebih dari sekedar beretorika dengan kata kata, jika seorang mempunyai retorika yang bagus mungkin hal ini cocok, dan Tuhan mungkin sedang mengajarkan saya tentang bagaimana beretorika yang bagus melalui sebuah tulisan, karena menurut saya sekolah sudah terlalu mainstream jika di ambil dari pendidikan karakter, maka saya mengambil obyek penelitian saya di pondok pesantren.
Sesuatu yang mainstream saya padukan dengan dengan sesuatu yang unik (menurut saya, entah menurut kalian) dan saya masih berusaha mencari titik menarik di skripsi saya, dan sampai sekarang, saya belum menemukan jawaban yang meyakinkan ketika besok oleh dosen penguji saya ditanya, apa yang menarik dalam skripsimu, sehingga kamu memilih judul tersebut, jika sekarang saya ditanya judul tersebut sekarang mungkin saya akan menjawabnya tidak ada yang menarik, entah besok, lusa, atau bulan depan, semoga saya segera menemukan sisi menarik skripsi saya.
Kesimpulan saya:
Jika kamu ingin lulus dengan cepat, ambil judul skripsi yang mainstream dan sudah banyak referensinya (dibaca: yang sudah banyak spesiesnya) di perpustakaan, jangan terlalu idealis, karena tak selamanya ke idealisan mu mengantarkanmu kepada kemudahan. (wejangan dari semester legend, yang sebentar lagi jabatan ini ingin saya tanggalkan dengan terselesaikanya skripsi saya (meskipun sekarang baru bab 4, karena terlalu berat saya membawa title tersebut kemana mana)
Jika kamu ingin lulus dengan cepat, ambil judul skripsi yang mainstream dan sudah banyak referensinya (dibaca: yang sudah banyak spesiesnya) di perpustakaan, jangan terlalu idealis, karena tak selamanya ke idealisan mu mengantarkanmu kepada kemudahan. (wejangan dari semester legend, yang sebentar lagi jabatan ini ingin saya tanggalkan dengan terselesaikanya skripsi saya (meskipun sekarang baru bab 4, karena terlalu berat saya membawa title tersebut kemana mana)
Just sharing, semoga bermanfaat, apa yang sudah terjadi itu lah yang terbaik, karena itu merupakan cara Tuhan menuntun jalan yang telah Ia tetapkan

Post a Comment for "Dibalik Hikmah Belum Juga Wisuda, Saya belum Menemukanya "
silahkan tulis pendapatmu disini